BANDUNG, (PR).-
Lebih dari delapan puluh persen potensi laut Indonesia belum dieksplorasi dan dikelola dengan baik. Hal ini salah satunya karena tidak melekatnya kurikulum berbasis kerakyatan yang diterapkan di perguruan tinggi (PT). Ini menyebabkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mengelola potensi alam sektor perairan masih rendah.
Demikian dikatakan guru besar Manajemen Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Surna Tjahja Djajadiningrat saat ditemui dalam acara penandatanganan nota kesepahaman antara ITB dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi, Keuangan, dan Perbankan Indonesia (STEKPI) di ruang rapat pimpinan ITB Bandung, Selasa (9/3). Dia mengatakan, potensi laut yang belum terjamah tersebut tidak hanya dari segi sumber daya alamnya seperti mutiara, tetapi juga teknologi. Misalnya saja, gelombang laut di Indonesia dengan potensi demikian besar, sampai saat ini pemanfaatannya masih rendah. Padahal, sebetulnya, gelombang tersebut bisa dimanfaatkan sebagai energi pembangkit listrik. "Indonesia negara kepulauan, tetapi pemanfaatan potensi lautnya lemah malah banyak yang dicuri oleh negara lain," katanya. Menurut Surna, hal itu disebabkan belum banyak tenaga ahli yang benar-benar ingin menekuni bidang bidang tersebut. Indonesia memang memiliki perguran tinggi yang membuka bidang tersebut. "Namun, banyak dari lulusan perguruan tinggi itu lebih memilih bekerja di sektor perbankan atau tempat yang lebih glamor. Tidak hanya kelautan, hal itu juga berlaku di bidang lainnya seperti pertanian atau peternakan," ujarnya. Di sisi lain, ia menambahkan, perguruan tinggi di Indonesia juga kurang mendorong mahasiswanya untuk berkecimpung di bidang kerakyatan. "Memang ada kuliah kerja nyata (KKN) atau praktik kerja lapangan (PKL), tetapi dalam praktiknya itu tidak optimal," kata Surna. Budaya lokal Ketua Dewan Pembina Yayasan Pengembangan Indonesia (YPI) Haryono Suryono memandang perlunya perguruan tinggi yang memanfaatkan budaya lokal pedesaan seperti pertanian dan kelautan. Hal itu menjadi konsep yang diterapkan dalam perencanaan perubahan STEKPI , dari sekolah tinggi menjadi universitas. Menurut dia, teknologi belum diterapkan secara luas pada budaya lokal. Begitu juga sistem ekonomi dan perbankan yang fokus pada budaya lokal tersebut masih minim. “Kami berencana menggagas sebuah institusi pendidikan tinggi yang peduli pada penguatan nilai-nilai lokal.” Sementara itu, Rektor ITB Akhmaloka mengatakan, ITB sangat mengapresiasi kerja sama ini karena sesuai dengan misi dan visinya. "ITB tidak hanya ingin dikembangkan menjadi universitas kelas dunia, tetapi juga yang memiliki cita rasa lokal," ujar dia. Selain itu, kata dia, ITB juga diharapkan mendapatkan masukan informasi dari kerja sama ini. "Rencananya nanti rektornya dari Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB, tetapi selain itu diharapkan kita juga bisa sharing," ucapnya. (A-185)*** |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar